Halaman

Selamat Datang Ke Blog Saya

Khamis, 26 April 2012

Cerpen (Aku dan cita-citaku)

PETIKAN CERPEN

AKU DAN CITA
CITAKU

Cerpen : Dian Mayasari

Hari ini aku resmi menjadi abdi negara .

Hari ini aku diangkat jadi guru dengan tugas pertamaku di desa terpencil. Akhirnya perjuanganku membuahkan hasil. Berbagai rasa bergemuruh di dalam dadaku. Rasa ini bercampur baur. Aku senang, bahagia, tetapi juga takut. Aku takut akan berada di suatu tempat yang tidak kukenal bersama orang
orang yang tidak kukenal. Aku hanya berdoa agar bisa menjalankan tugasku baik dan benar. Perjalanan ini terasa begitu panjang, aku sudah tidak sabar untuk menjalankan tugasku.

Adakah diantara kalian di kelas ini yang ingin jadi guru , tanya Pak Bandar memecah keheningan kelas ketika semua siswa sedang sibuk mencatat apa yang sedang diterangkannya.

Semua siswa tetap diam. Entah mengapa, tiba
tiba Pak Bandar menanyakan pertanyaan itu. Lalu aku mengangkat tanganku dan kukatakan aku ingin menjadi guru, semua teman temankku terheran heran kepadaku.

Apakah hanya Rita yang ingin jadi guru , tanya Pak Bandar lagi.

Tidak ada yang bersuara, teman
temanku tetap diam dan Pak Bandar pun akhirnya juga diam. Dari raut muka guruku itu terlukis suatu kesedihan. Setelah beberapa bulan dari peristiwa tersebut Pak Bandar pensiun. Aku dan semua teman temanku melepas Pak Bandar dengan air mata dan ucapan terima kasih karena telah mengajarkami dengan ikhlas.Setelah itu aku hampir tidak pernah bertemu Pak Bandar lagi. Ada sesuatu yang masih menggelitik rasa keingintahuanku kenapa ketika Pak Bandar bertanya soal cita cita menjadi guru semua teman temanku tdak berminat menjadi guru. Suatu ketika pada saat istirahat aku bertanya kepada seluruh teman teman mereka ingin jadi apa. Banyak sekali diantara teman temanku yang ingin jadi dokter, insinyur, polisi dan berbagai profesi lain tetapi ynag ingin menjadi guru jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah jumlah jari tanganku. Lalu kutanyakan kepada salah seorang temanku ,Dede, mengapa semua temanku tidak berminat menjadi guru.

Aku bingung, mengapa semua teman sekelas kita termasuk kamu tidak mau menjadi guru, De , tanyaku pada Dede.

Kau ini, Rit, kau tahu sendiri kalau gaji guru itu kecil, hidupnya susah dan pekerjaannya pun berat , jawab Dede singkat.

Memangnya pekerjaan guru itu berat? Bila dibandingkan dengan menjadi seorang dokter, kurasa tugas guru lebih ringan dan mulia karena guru tidak pernah meminta balas jasa .Hidup seorang guru itu benar benar diabdikan bagi pekerjaannya, seperti guru kita Pak Bandar. Aku ingin menjadi guru seperti Pak Bandar yang mengabdikan hampir semua hidupnya bagi pendidikan , jawabku.

Kenapa sih kamu ? Otak kamu rusak ya, kamu benar benar sudah gila jika kamu mau jadi guru. Ibu kamu dokter,dan ayah kamu juga dokter, kenapa kamu mau menjadi guru ?, tanya Dede kesal.

Pokoknya aku ingin jadi guru.Aku ingin seperti Pak Bandar. , jawabku sengit.

Kalau menurutku lebih enak jadi dokter, masa depan lebih terjamin.Kau tahu banyak guru yang harus nyambi ngojek karena penghasilannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Aku pun ingin jadi dokter jawab Dede lagi.

Setelah itu Dede pun berlalu.Dede merasa telah menang dariku. Aku mulai mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya yang membuat aku ingin jadi guru.Pantaskah aku menjadi guru hanya karena mengagumi sosok Pak Bandarsyah. Pantaskah aku? Jika aku hanya hanya ingin jadi guru karena mengagumi Pak Bandar,aku tak akan mungkin bisa menjadi guru seperti Pak Bandar. Sementara ayah dan ibuku dokter gigi yang sukses. Mereka menginginkan akupun seperti mereka menjadi dokter yang sukses. Ketika kusadari apa sebenarnya makna kesedihan yang tergambar di wajah guruku pada saat peristiwa di kelas itu, kusadari sebenarnya guruku yang satu ini menginginkan kami semua yang da di kelasku mau menjadi guru. Namun kenyataan benar
benar berbeda dengan yang diinginkannya.Kusadari semua ini setelah aku hampir lulus dari SMA, ketika aku hampir memasuki masa kuliah. Semuanya telah direncanakan oleh kedua orang tuaku , aku akan jadi dokter seperti apa yang aku inginkan . Keraguanku telah hilang , semuanya telah kupahami. Aku benar benar ingin jadi guru bukan hanya karena kagum pada guruku .Tekadku sudah bulat, aku ingin jadi guru walaupun gaji guru kecil walau harus menerima konsekuesi apapun .Tetapi jika kukatakan aku ingin jadi guru pasti kedua orang tuaku kecewa, mana mungkin aku berani mengecawakan mereka, hanya akulah satu satunya tumpuan harapan keluargaku.

Aku bingung, jika kukatakan sebenarnya bahwa aku tidak ingin jadi dokter kepada ayah dan ibu pasti mereka akan sangat shock dan akan lebih shock lagi jika mendengar aku ingin jadi guru. Sebentar lagi aku masuk perguruan tinggi, inilah yang membuatku semakin bingung. Aku akan memilih jalanku sendiri ataukah aku harus menuruti kehendak ayah ibuku.Aku akan menyesal jika aku tidak menyuarakan hatiku, mengungkapakn keinginanku untuk menjadi guru.

Harus, aku harus bicara , kataku dalam hati.

Ketika hampir bicara dengan ibuku, aku kembali ragu. Benarkah yang akan kulakukan ini, pikirku dalam hati. Tiba
tiba aku ingat ucapan Pak Bandar bahwa kita harus yakin dengan apa yang kita pilih. Kudekati ibu, kuberanikan diriku tetapi jantungku berdetak begitu kencang, aku gugup.

Bu, aku ingin bicara , kataku.

Ada apa sepertinya kamu serius sekali, Rit ��, kata ibuku heran.

Ini mengenai cita citaku , Bu. Aku tidak ingin jadi dokter aku ingin jadi guru, Bu.Aku benar benar ingin jadi guru, menjadi dokter bukanlah cita citaku, Bu , kataku tergagap.

Mulanya berusaha untuk bersikap biasa tetapi akhirnya ibukutidak bisa mentupi keterkejutannya .Itu terlihat dari raut mukanya . Ia hampir pingsan, ibu tidak pernah membayangkan jika aku jadi guru padahal aku adalah tumpuan harapan keluargaku karena aku anak semata wayang. Ibuku bilang ia tidak setuju jika aku menjadi guru.

Kau tahu, guru itu hidupnya susah, gajinya kecil dan masa depan tak terjamin. Ibu tidak setuju kalau kau jadi guru. Ibu ingin kau jadi dokter, ibu ingin masa depanmu terjamin. Kau tahu, jasa guru tidak pernah diingat bahkan pemerintahpun tidak pernah memberi tanda jasa , kata ibuku.

Oleh karena itu, Bu. Aku ingin mengubah semua itu jika aku menjadi guru nanti. Akan kubuktikan bahwa guru lebih berhak mendapat tanda jasa dibanding polisi. Bagaimana nasib generasi kita nanti jika semua orang ingin menjadi dokter dan tidak ada yang mau jadi guru, tidak akan ada dokter, insinyur, pengacara tanpa guru yang mengajarnya. Sungguh ironis jika memandang suatu profesi ataupun jalan hidup yang kita pilih dari segi materi. Walaupun jasa guru tidak pernah diingat, tetapi Allah akan selalu mengingat jasa guru, kataku berusaha meyakinkan ibu.

Ibu terdiam, ia kehabisa kata ia kalut, mukanya merah padam. Aku pun terdiam, ada sesuatu yang sedang bergejolak dalam hatiku. Aku merasa bersalah tetapi di sisi lain aku benar
benar ingin jadi guru. Tiba tiba terngiang kata kata yang sering diucapkan ayah kepadaku ketika aku masih kecil.

Rita, kamu kelak akan menjadi dokter seperti ayah kan , kata ayah padaku. Aku dihantam badai kebimbangan, aku sekarang bagai nahkoda kapal kehilangan kendali dan kebingungan mencari arah. Aku lari ke kamarku, aku menangis sejadi jadinya. Aku lihat kekecewaan di wajah ibu, berdosakah aku, ya Allah, ampuni dosaku.

Ayah dan ibu mendesakku untuk memilih fakultas kedokteran. Mereka terus mendesakku, aku tidak ingin jadi dokter. Aku ingin jadi guru. Tanpa sepengetahuan ayah dan ibu aku mendaftarkan diri ke fakultas keguruan. Ayah dan ibu baru mengetahui hal itu setelah membaca dikoran mengenai siswa yang lulus SPMB. Ayah marah kepadaku, ayah merasa aku telah menghianati cita
cita mereka. Mereka membujukku agar aku mengurungkan niatku untuk masuk fakultas kejuruan ilmu pendidikan. Tetapi, aku sudah menjatuhkan pilihan aku ingin jadi guru. Ayah terang terangan menentang keinginanku. Aku tidak akan pernah menyerah. Pak Bandar juga pernah berkata, jika kita menyerah maka semua akan berakhir. Oleh karena itu, aku tidak pernah akan menyerah. Jangan takut dengan sesuatu yang menentangmu, ingatlah layang layang terbang tinggi di langit karena menentang angin.

Di tengah kekalutanku ini, aku memutuskan untuk lari dari rumah. Aku harus yakin pada apa yang aku pilih. Aku ingin jadi guru, aku tidak ingin jadi dokter. Aku ingin jadi guru seperti Pak Bandar yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk dunia pendidikan dan siswanya.

Ayah, ibu, maafkan aku , tulisku di dalam surat yang aku tinggalkan di dalam kamar.

Dan sekarang aku sudah menjadi seorang guru. Ada rasa bersalah di dalam hati kecilku karena aku tidak menuruti kehendak ayah dan ibu. Tetapi aku hanya dapat berdoa agar ayah dan ibuku dapat mengerti dan memahami bahwa menjadi guru adalah tugas mulia dan inilah jalan yang aku pilih.

Langit kelihatan letih menahan awan
awan yang mengandung hujan. Tetapi aku akan tetap berjuang. Cita citaku baru saja dimulai. Tiba tiba terngiang kata kata ibu bahwa hidup menjadi seorang guru itu sengsara dengan gaji yang kecil. Tetapi jika kita hidup hanya mementingkan materi, maka hidup ini akan menghasilkan robot robot penghasil uang yang takkan pernah merasakan kepuasan bathin. Walaupun aku tak tahu kalau dan ibuku menginginkan hidup yang terjamin untukku. Wajah Pak Bandar terbayang dibenakku. Pak Bandar, guru yang benar benar ku kagumi dari seluruh hatiku, guru terbaik yang pernah mengajariku. Aku hanya bisa berdoa agar Pak Bandar dan keluarganya selalu dilimpahi rezeki Nya.

Pak Bandar, sekarang aku sudah menjadi guru bahasa inggris dan abdi negara ini,teriakku dalam hati .

Rit, kita sudah sampai , kata temanku membuyarkan semua memoriku.

Akhirnya aku sampai di sini, sebuah desa kecil, tempat dimana aku akan menjalankan tugasku inilah duniaku, dunia pilihanku. Desa ini begitu asri, begitu hijau dengan langit birunya. Desa ini sungguh mempesonaku. Di sinilah aku akan menjalankan tugas pertamaku.



********



Bunda, ini foto siapa , tanya Nita, anakku yang baru berumur 5 tahun.

Ini foto kakek dan nenek , jawabku pada Nita.

Aku telah menikah. Sekarang aku menjadi seorang guru dan penulis. Aku menikah dengan Dede yang berprofesi seorang dokter.

Bunda, aku ingin menjadi dokter seperti ayah. Jadi guru tidak enak, hidupnya susah dan gaji kecil , celetuk puteriku ini.

Nita kecilku pun memandang jalan yang akan dipilihnya dari sudut pandang materi.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan